Konser Doa Anak Negeri

Konser Doa Anak Negeri

Profil Pengisi Acara

ST Choir (foto: dok pribadi)

Sang Timur Choir (STC)
Sang Timur Choir adalah kelompok paduan suara beranggotakan siswa-siswi SMA Katolik Sang Timur, Tomang. Kelompok ini merupakan salah satu bentuk realisasi keaktifan siswa di gereja, didirikan pada tahun 1992 atas gagasan dan diskusi guru. Pelatihnya, Bapak Tri Widodo, aktif menjadi pembimbing ekstrakulikuler ini sejak tahun 1994.
Seiring bertambahnya jumlah peminat, para guru pun sepakat untuk membentuk intrakurikuler paduan suara. Para anggota Sang Timur Choir aktif melakukan pelayanan misa sekolah, misa umum, partisipasi dalam lomba, serta sebagai pengisi acara di berbagai kesempatan.

Padus SMA Tarakanita 1 (foto: dok pribadi)

Paduan Suara SMA Tarakanita 1
Paduan Suara SMA Tarakanita 1 terbentuk sekitar tahun 1966-1970. Paduan suara ini terdiri dari sekumpulan siswi kelas Seni Budaya dengan peminatan Seni Paduan Suara yang merupakan intrakurikuler sekolah. Pelatihnya tak lain adalah Christine Tambunan. Ia aktif membimbing paduan suara yang beranggotakan para wanita ini untuk tampil dalam berbagai acara, misa, serta konser.
Di bawah bimbingannya, Paduan Suara SMA Tarakanita 1 berhasil meraih beberapa penghargaan, contohnya :
  1. Juara 1 Cassanova SMA Kanisius (2013)
  2. Juara 1 Bunda Mulia (2014)
  3. Juara 1 Fesparawi se-Keuskupan Agung Jakarta (2016)
  4. Silver Medal dalam Saint Angela Children & Youth Choir Festival (2016)

Sonore Chamber Choir (foto: dok pribadi)

Sonore Chamber Choir
Sonore Chamber Choir merupakan paduan suara yang terbentuk sejak bulan Mei 2017. Sonore sendiri adalah paduan suara campuran yang berbasis di Jakarta Barat. Anggotanya terdiri dari berbagai macam latar belakang yang berbeda. Di bawah bimbingan Caspar selaku pelatih, Sonore berhasil meraih Silver Medal dalam Penabur International Choir Festival, bulan September 2017.

Ansambel SMA Sang Timur (foto: dok pribadi)

Ansamble SMA Katolik Sang Timur
Ansamble merupakan salah satu intrakurikuler seni di SMA Sang Timur, Tomang. Pelatihnya kini adalah Kak Johanes Jordan Sebastian. Mulanya, intrakurikuler ini hanya memiliki beberapa alat musik; pianika, biola, dan suling. Seiring berjalannya waktu, beberapa alat musik ditambahkan ke dalam intrakurikuler ini; gitar, piano, gitar elektrik, klarinet, cello, flute, bass, saxophone, dan terompet.

Pengisi Konser Doa Anak Negeri (foto: dok pribadi)

Sinar mentari cantik berseri,
Ada bangga lekat di hati,
Smoga lestari, smoga abadi,
Doa kami dari anak negeri.
Itulah sepenggal syair dari Doa Anak Negeri, salah satu lagu yang dibawakan dengan merdu oleh Sang Timur Choir, Paduan Suara SMA Tarakanita 1, dan Sonore Chamber Choir pada Minggu, 14 Januari 2018 lalu. Hari itu adalah hari dilaksanakannya Konser Doa Anak Negeri, yakni sebuah konser amal yang diselenggarakan oleh Sang Timur Choir dan alumninya. Mereka bekerja sama dengan Tarakanita 1, Sonore Chamber Choir, Ansamble Sang Timur, dan tentunya Sanggar Anak Akar. Mengangkat tema Kehidupan dan Doa, hasil dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu sesama yang memiliki keterbatasan dalam hal ekonomi dan pendidikan, terutama bagi mereka yang memiliki semangat tinggi dalam berkarya melalui seni dan budaya.
Konser istimewa ini dilangsungkan di Taman Ismail Marzuki, tepatnya berpusat di gedung Graha Bhakti Budaya. Mengapa istimewa? Tak lain adalah karena konser ini menggabungkan penampilan dari seni teater, paduan suara dan musik, lengkap dengan konsep acara yang mengusung isu sosial.
Berawal dari kepercayaan Natasha Lohanatha, ketua panitia Konser Doa Anak Negeri, bahwa murid Sekolah Menengah Atas (SMA) pun mampu berbuat lebih bagi sesamanya, tidak hanya sebatas pentas seni belaka. Kemudian ia mengajak Bapak Tri Widodo, yaitu pelatih Sang Timur Choir untuk bernyanyi bersama di luar lingkungan sekolah. Lebih dari sekedar bernyanyi, akhirnya mereka memutuskan untuk menggelar sebuah konser yang ditujukan untuk membantu sesama manusia yang masih hidup serba kekurangan.
Dipilihlah Yayasan Sanggar Anak Akar sebagai yayasan utama yang dianggap memerlukan uluran kasih dari konser amal ini. Sanggar Anak Akar sendiri merupakan sebuah yayasan yang memiliki cerita menginspirasi sejak pertama kali didirikan pada tahun 1994. Jatuh bangun telah mereka lalui untuk terus berkarya dan membantu anak-anak jalanan dalam menempuh dunia pendidikan. Hingga akhirnya pada pertengahan tahun 2009 mereka berhasil menetapkan keberadaannya sebagai Sekolah Otonom di atas tanah seluas 950 m.
Berkat bantuan dan kerja keras para relawan, baik individu maupun kelompok, anak-anak di Sanggar Anak Akar mampu belajar menghargai kehidupan, memaknai kebebasan, mengembangkan talenta dan kreativitas, serta memiliki kepercayaan diri untuk ambil bagian dalam proses pembangunan di Indonesia. Sebagai salah satu pilar utama dalam proses pengajaran, muncullah bantuan dari para relawan yang menyebut diri mereka sebagai Sahabat Akar. Dukungan yang mereka berikan dapat berupa fasilitator, sumbangan dan dana, serta berbagi pengalaman dalam berbagai bidang.
Secara keseluruhan, konser ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah The Beauty of Our Nature. Bagian pertama ini menampilkan kisah awal mula terbentuknya Sanggar Anak Akar. Kisah ini diangkat ke dalam drama singkat yang diperankan langsung oleh anggota Sanggar Anak Akar. Hadirnya cerita yang bernuansa ceria dan sederhana, dilanjutkan dengan penampilan dari Sang Timur Choir yang menyanyikan tiga buah lagu karya John Rutter, yakni For The Beauty of the Earth, Look to the Day, dan All Things Bright and Beautiful. Tidak ingin ketinggalan, paduan suara SMA Tarakanita 1 turut bergabung untuk menutup akhir bagian pertama dengan membawakan lagu yang berjudul Look at the World.
Pada bagian kedua, Conflicts in Our Life, dimulailah pertikaian-pertikaian yang memicu klimaks dari drama. Dikisahkan bagaimana Sanggar Anak Akar berusaha berjuang demi mempertahankan keberadaan mereka. Banyak pihak keamanan yang berusaha menggusur pemukiman anak jalanan yang dinilai tidak kondusif. Fase ini berlangsung secara cepat, memperlihatkan keberanian dan ketegaran mereka untuk terus berjuang. Pada bagian kedua ini, Sonore Chamber Choir mengisi bagian-bagian dalam drama dengan menyanyikan beberapa buah lagu, yakni Take O Those Lips Away, Daemon IrrepitCallidus, dan Dies Irae. Sebagai penutup bagian kedua, seluruh personil gabungan dari paduan suara menyanyikan sebuah lagu karangan L. Putut Pudyantoro yang berjudul Hidup dengan Hati. Sesudah itu, Sang Timur Choir bersama Tarakanita 1 menyanyikan lagu Negeri di Awan sebagai pengantar menuju ke babak terakhir.
Sementara bagian ketiga adalah Our Hope for the World, menampilkan suasana penuh doa dan harapan akan masa depan. Sanggar Anak Akar berhasil meraih cita-cita mereka, yaitu membentuk komunitas sosial demi mendapatkan penghidupan yang layak. Pada bagian ini, paduan suara SMA Tarakanita 1 unjuk diri dengan menampilkan lagu-lagu yang berjudul Simfoni yang Indah dan Lilin-Lilin Kecil. Akhirnya, puncak konser ini ditutup dengan ditampilkannya lagu Doa Anak Negeri dan Negeriku.
Berkat bantuan dari beberapa sponsor, seperti Event Jakarta, Info Pensi, LiveLife, Zebra, serta beberapa donator, acara konser ini pun dapat berlangsung dengan meriah sejak pukul 17.00 hingga 19.00. (Reportase: Galita Indira Putri)
Profit dari konser ini 100% akan disumbangkan ke Yayasan Sanggar Anak Akar, sebuah yayasan pendidikan alternatif bagi anak-anak yang terpinggirkan.
Info lebih lanjut : Sharon – 082211113878 Magdalena – 081585328126 Novian – 085894062137 Tiara – 089623774149 Kezia – 081287172993 Vanesa – 081586460647 Teresa – 083811817587
Follow instagram kita di: @kdoaanaknegeri

Leave a comment

×
Silakan menghubungi kami:
Senin-Jumat pada 07.30 - 15.00 WIB
atau email kami: smakstjkt@gmail.com
×